
Di era ketika inovasi sering diasosiasikan dengan kecepatan dan disrupsi, Futuloka hadir dengan narasi yang berbeda—sebuah pendekatan yang menghargai masa lalu, sekaligus terbuka terhadap masa depan. Di jantung gerakan ini berdiri Open-Innovation Lab, sebuah ekosistem hidup tempat para kreator, teknolog, dan pelaku budaya berkumpul untuk membayangkan kembali hubungan antara tradisi, kreativitas, dan teknologi.
Lab ini bukan sekadar inkubator teknologi. Ia juga bukan hanya ruang lokakarya seni. Open-Innovation Lab adalah ruang pertemuan lintas batas, tempat ekspresi artistik berpadu dengan eksperimen digital, tempat pengetahuan leluhur berdialog dengan alat baru, dan tempat dunia fisik dan digital saling menyilang secara sadar.
Apa Itu Open-Innovation Lab?
Open-Innovation Lab adalah program utama Futuloka yang dirancang untuk mendorong riset kreatif, prototipe kolaboratif, dan eksplorasi teknologi baru seperti blockchain, NFT, dan sistem terdesentralisasi. Lebih dari sekadar fasilitas, lab ini adalah sebuah metodologi—platform terbuka dan ko-kreatif yang berakar pada relevansi budaya dan semangat eksperimentasi.
Berbeda dari lingkungan R&D yang tertutup, lab ini mengutamakan keterbukaan, transparansi, dan keberagaman. Siapa pun bisa terlibat: perajin tradisional, musisi eksperimental, pengembang teknologi, hingga kolektif seni. Semua diajak bersama-sama menciptakan pendekatan baru terhadap budaya digital.
Tujuan utamanya bukan sekadar “mendigitalkan” budaya, tapi justru membiarkan budaya membentuk teknologi—agar inovasi tetap berpijak pada nilai-nilai lokal, sejarah, dan imajinasi kolektif.
Tradisi sebagai Sumber Daya yang Hidup
Salah satu gagasan paling berani dari Open-Innovation Lab adalah menganggap tradisi bukan sebagai artefak mati, tapi sebagai sistem pengetahuan dan estetika yang hidup. Kerajinan, cerita rakyat, pertunjukan ritual, hingga pola batik tradisional dipandang sebagai kecerdasan budaya yang relevan di era digital.
Melalui riset mendalam, lokakarya, dan residensi kolaboratif, lab ini mendorong peserta untuk membongkar ulang bentuk-bentuk tradisi, lalu membayangkannya kembali dengan media baru. Sebuah wayang bisa menjadi avatar animasi; tembang bisa diolah menjadi musik generatif berbasis algoritma; motif batik bisa dimunculkan sebagai NFT berbasis AI—semua adalah cara agar tradisi tetap bersuara dan bertransformasi.
Bukan dalam rangka eksploitasi visual, tapi sebagai bentuk penguatan agensi tradisi—agar bisa ikut menyusun masa depan digital kita.
Kreativitas sebagai Eksperimen dan Dialog
Inti dari lab ini adalah ruang bermain kreatif. Bukan hasil akhir yang jadi tolok ukur, tapi proses: iterasi, gagal, coba lagi, dan belajar bareng.
Kolaborasi lintas disiplin sangat dianjurkan. Seorang penari, pengembang web3, dan pemain gamelan bisa membangun pengalaman XR interaktif bersama. Atau perajin tenun dan coder blockchain merancang sistem otentikasi digital untuk produk kerajinan mereka.
Lab ini menyediakan akses ke infrastruktur digital (wallet, smart contract, platform NFT), mentor dari dunia seni dan teknologi, serta jaringan kolaboratif baik lokal maupun global. Tapi yang lebih penting: lab ini menyediakan ruang untuk rasa ingin tahu—sesuatu yang semakin langka di dunia yang serba transaksional dan hasil akhir.
Teknologi sebagai Infrastruktur Budaya
Dalam konteks Open-Innovation Lab, teknologi tidak hanya alat. Ia adalah infrastruktur budaya—yang artinya harus didesain, dikritisi, dan disesuaikan dengan nilai dan konteks budaya.
Lab ini mengeksplorasi sistem desentralisasi yang mencerminkan semangat kolektif. Ini mencakup:
- Uji coba DAO untuk produksi seni kolaboratif
- Implementasi sistem royalti NFT berbasis komunitas
- Eksperimen identitas digital untuk pengrajin (seperti Soulbound Token dalam proyek Otentifikasi Batik)
Lab ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting:
- Bisakah teknologi menjadi bagian dari ritual?
- Mungkinkah blockchain membawa nilai etika dan sosial?
- Dapatkah warisan budaya hidup bermakna di metaverse?
Jawabannya belum tentu pasti—tapi pertanyaannya sendiri sudah menjadi ruang penciptaan.
Titik Luncur untuk Model Budaya Baru
Walau berbasis eksperimentasi, lab ini punya visi jangka panjang: menjadi titik luncur untuk ekosistem budaya baru. Banyak prototipe dari lab ini dikembangkan lebih lanjut menjadi pameran, pertunjukan, program komunitas, hingga inisiatif berbasis teknologi yang berkelanjutan.
Open-Innovation Lab juga mendukung ekosistem Futuloka lainnya: festival tahunan, program fellowship, dan kompetisi Creator Connect. Ia menjadi semacam sayap R&D dari gerakan Web3 budaya Indonesia.
Dengan menjembatani teknologi dan kebutuhan budaya, serta memperlakukan kreator sebagai arsitek (bukan sekadar pengguna), lab ini membantu memetakan kemungkinan masa depan digital yang lebih adil dan regeneratif.
Sebuah Gerakan, Bukan Sekadar Program
Pada akhirnya, Open-Innovation Lab bukanlah program biasa. Ia adalah sebuah gerakan yang menantang narasi inovasi arus utama—dengan menempatkan kreativitas, nilai budaya, dan imajinasi etis sebagai pusat dari inovasi itu sendiri.
Lab ini mengingatkan kita bahwa inovasi tidak harus meninggalkan tradisi. Bahkan, masa depan yang paling bermakna bisa jadi lahir dari kebijaksanaan masa lalu. Dan bahwa para kreator, jika diberi alat dan ruang, bisa menjadi penentu arah dunia digital yang akan datang.
Masa depan budaya tidak hanya hidup di server atau cloud, tapi dalam tangan, pikiran, dan komunitas yang berani membayangkannya ulang. Dan Open-Innovation Lab Futuloka adalah tempat imajinasi itu mulai diwujudkan.