
NFT (non-fungible token) sering dianggap sebagai wajah paling mencolok dari blockchain dalam dunia seni—berkat penjualan miliaran rupiah dan kemunculan marketplace digital. Tapi sejarahnya jauh lebih dalam. Para seniman mulai bereksperimen dengan NFT sejak 2014–2015, jauh sebelum menjadi tren global.
Handbook ini disusun oleh We Are Museums (WAC Lab), sebuah inisiatif global yang mendukung museum dan institusi budaya dalam merespons inovasi dan teknologi baru. WAC menjembatani dunia tradisional dan digital, dengan fokus pada bagaimana alat-alat digital—khususnya blockchain dan Web3—dapat dimanfaatkan secara inklusif dan berkelanjutan. Melalui program edukasi, residensi, dan laboratorium kreatif, WAC mendorong para pelaku budaya untuk bereksperimen dengan model-model baru dalam berinteraksi, berkarya, dan membangun tata kelola bersama.
Titik balik terjadi pada 2020–2021 saat platform seperti SuperRare, Hic et Nunc, dan Art Blocks memberi ruang bagi seniman untuk mencetak, menjual, dan memamerkan karya digital mereka. Penjualan karya Beeple senilai $69 juta di Christie’s menjadi momen ikonik yang membawa NFT ke pusat perhatian dunia.
Namun, pada 2022, pasar NFT mengalami koreksi tajam. Fase “bear market” ini membuka kelemahan ekosistem yang terlalu bergantung pada spekulasi. Isu soal royalti, keberlanjutan, dan niat artistik mulai muncul. Bagi institusi budaya atau pelaku seni yang ingin masuk Web3, ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal nilai dan etika.
Belajar dari Institusi yang Mulai Mencoba
Beberapa institusi besar mulai menjajaki Web3, seperti LACMA, Whitney Museum, hingga Opéra de Paris. Mereka menggunakan NFT untuk tujuan edukasi, penggalangan dana, hingga digital curation. Tujuannya beragam: membangun koneksi dengan audiens digital native, memperluas akses koleksi, atau menjelajahi cara baru menghadirkan karya.
Namun, tantangannya juga nyata: regulasi aset kripto yang belum jelas, keterbatasan kapasitas teknis internal, hingga problem pelestarian aset digital jangka panjang.
Isu konservasi ini sangat krusial. Banyak orang mengira bahwa NFT otomatis membuat karya seni “abadi” karena tercatat di blockchain. Faktanya, sebagian besar NFT hanya menyimpan tautan (link) ke file eksternal—seperti server atau IPFS. Tanpa strategi kurasi, migrasi data, dan dokumentasi menyeluruh, karya-karya ini bisa hilang seiring waktu.
Royalti dan Kepemilikan: Tak Selalu Seperti yang Dibayangkan
Salah satu hal paling menarik dari NFT untuk seniman adalah janji royalti otomatis: mereka akan terus menerima bagian dari setiap penjualan ulang. Namun, kenyataannya lebih rumit. Handbook ini menjelaskan bahwa sistem royalti tidak dijamin oleh blockchain, tapi oleh kebijakan masing-masing marketplace.
Artinya, platform bisa menghapus atau mengubah struktur royalti sewaktu-waktu. Selain itu, smart contract memang alat yang kuat, tapi tidak selalu mengikat secara hukum. Hal ini menimbulkan pertanyaan seputar hak cipta, lisensi, dan akuntabilitas.
Bagi institusi budaya atau inisiatif seperti Futuloka, hal ini menjadi pengingat bahwa desain proyek Web3 harus disertai kejelasan hukum dan etika, terutama jika melibatkan karya kolaboratif, warisan budaya, atau kepemilikan komunitas.
Live Minting dan Pameran NFT: Merangkul Partisipasi
Salah satu strategi inovatif yang diangkat dalam handbook adalah live minting, yaitu pengunjung dapat mencetak (mint) NFT secara langsung di lokasi acara atau pameran. Metode ini terbukti efektif untuk memperkenalkan teknologi blockchain kepada publik yang belum familiar. Pengunjung tidak hanya melihat karya, tapi ikut aktif menciptakan dan memiliki pengalaman langsung.
Meski begitu, memamerkan NFT juga punya tantangan sendiri. Banyak pameran digital yang hanya menampilkan layar datar dengan kualitas rendah dan kurasi seadanya. Handbook ini mendorong agar NFT dikurasi dan ditampilkan dengan standar yang sama seperti karya seni lainnya: penuh narasi, kontekstual, dan imersif.
Galeri seperti Superchief dan fx(hash) mulai menjadi contoh bagaimana NFT bisa ditampilkan secara estetis dan bermakna.
Nilai Budaya di Balik Teknologi
Pesan utama dari WAC Handbook ini jelas: blockchain bukan hanya alat finansial, tapi juga infrastruktur budaya. Potensi sebenarnya terletak pada bagaimana teknologi ini bisa membuka ruang baru bagi ekspresi, kolaborasi, dan pelestarian budaya.
Untuk inisiatif seperti Futuloka atau Spektakel, insight ini sangat relevan. Program edukasi, pameran interaktif, live minting, hingga kolektif digital berbasis DAO bisa menjadi jalan untuk tidak hanya “ikut tren”, tapi juga ikut membentuk arah budaya digital masa depan—yang lebih adil, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Penutup
Saat seniman, institusi, dan komunitas mulai menjajaki Web3, WAC Handbook mengingatkan kita untuk melangkah dengan niat. Blockchain bukan solusi instan—ia adalah media yang fleksibel dan masih berkembang. Inovasi sejati terletak pada cara kita menggunakannya: bukan untuk meniru sistem lama, tapi untuk membayangkan dan membangun sistem baru yang lebih inklusif dan berani. Dan perjalanan ini baru saja dimulai.