Bridging Culture & Future

Web3 dan NFT: Ruang Baru Kreativitas dan Kolaborasi di Indonesia

Pandemi Covid-19 meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Dunia terhenti, dan jutaan orang di seluruh penjuru bumi dihantam gelombang kehilangan—pekerjaan, mobilitas, hingga harapan. Indonesia pun tak luput. Bagi banyak orang, hari-hari penuh kecemasan menjadi rutinitas baru. Namun, di tengah kegelapan, secercah cahaya muncul. Bagi sebagian, masa krisis justru menjadi momen pencarian makna baru—dan bahkan jalan hidup yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Salah satu pintu yang terbuka di masa itu adalah Web3—dan secara lebih spesifik, Non-Fungible Token (NFT). Meski teknologi ini bukan hal baru, momentum besar justru datang ketika dunia sedang berkabung. NFT menjadi jembatan baru, bukan hanya untuk bertransaksi, tapi juga untuk berekspresi dan membangun komunitas.

NFT: Jalan Baru bagi yang Terpukul Pandemi

Seiring banyak orang kehilangan pekerjaan, muncul pula gelombang kreator baru yang mencoba peruntungan di dunia digital. Tak sedikit di antaranya yang dulunya adalah sales properti, manajer perusahaan, bahkan pengangguran. Mereka mulai mengunggah karya visual ke platform seperti OpenSea, Foundation, atau Tezos-based Objkt—yang kemudian diberi bentuk NFT dan diperjualbelikan menggunakan cryptocurrency.

Fenomena ini terjadi secara global. Menurut laporan DappRadar, nilai pasar NFT sempat mencapai lebih dari $17 miliar pada 2021, dan meski sempat turun, ekosistem ini tetap berkembang dengan arah yang lebih berkelanjutan. Di Indonesia, NFT menjadi fenomena kultural tersendiri.

Dekonstruksi Seni dan Komunitas Baru

Web3 menciptakan pola distribusi baru yang sangat berbeda dengan ekosistem seni konvensional. Jika sebelumnya seni kontemporer terasa elitis—terbatas pada galeri, kolektor, dan kurator profesional—maka NFT justru membuka pintu selebar-lebarnya.

Artis bisa menjual karyanya langsung kepada kolektor dari seluruh dunia. Tidak ada batasan geografis. Tidak ada jalur karier yang harus dilewati secara hierarkis. Seni digital yang sebelumnya sulit mendapatkan tempat, kini bisa menjadi sumber penghidupan.

Lebih penting lagi, NFT menciptakan komunitas yang cair dan inklusif. Di Indonesia, komunitas Web3 berkembang dengan cepat, terutama di Twitter. Bukan hanya soal jual beli karya, tapi juga soal berbagi ilmu dan pengalaman. Hal ini tampak dari banyaknya sesi diskusi via Twitter Space (dulu X Space), tempat seniman berbagi tentang proses kreatif, strategi pemasaran, hingga etika berkarya.

NFT dan Etos Baru: Kolaboratif, Terbuka, dan Rendah Hati

Menariknya, budaya Web3 di Indonesia justru memperlihatkan sikap yang sangat berbeda dari ekosistem Web2. Banyak pelaku NFT di Indonesia justru menghindari sikap gatekeeping—di mana informasi atau peluang hanya berputar di lingkaran sempit.

Sebaliknya, ada semangat untuk “saling buka jalan.” Seorang seniman sukses akan menarik seniman lain naik ke panggung. Tidak sedikit pula seniman yang sukses membagikan tutorial, membuka forum mentoring, dan bahkan membuat proyek kolaboratif lintas disiplin.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa NFT bukan hanya “tren digital,” tapi juga sebuah model ekosistem sosial yang lebih demokratis.

Studi Kasus: Seniman Indonesia di Web3

Ambil contoh seniman seperti Will A.K., yang awalnya hanya penikmat seni dan kemudian terjun ke dunia digital setelah mendapat komputer dari orang tuanya saat SMP. Ketika pandemi tiba, ia sudah cukup matang dengan keahliannya, dan mulai memanfaatkan NFT untuk memperluas audiens dan membangun komunitas global.

Karya Will tidak hanya unik secara visual—memadukan superflat art dengan absurditas hidup sehari-hari—tetapi juga menawarkan narasi filosofis tentang eksistensialisme, humor, dan ketidakpastian. Melalui NFT, Will bisa terhubung dengan kolektor dari luar negeri, mendapatkan penghasilan, sekaligus menjadi bagian dari komunitas yang terus berkembang.

Futuloka, sebagai laboratorium inovasi terbuka, mendukung perjalanan seperti ini dengan membantu para seniman membuat profil mendalam dan catatan kurasi, sebagai cara mendokumentasikan dan memberi konteks atas karya mereka. Program ini ditawarkan secara gratis dan menjadi langkah awal untuk banyak kreator mengenalkan karyanya secara lebih terstruktur.

Menggeser Paradigma Seni Budaya di Indonesia

Indonesia dikenal kaya akan seni dan budaya. Namun dalam praktiknya, ekosistem tersebut sering kali tidak dikelola secara optimal. Banyak seniman dan budayawan bekerja dalam keterbatasan—baik dari sisi dukungan, distribusi, maupun peluang. Web3 bisa menjadi salah satu jawaban untuk memperluas cakrawala mereka.

Dengan NFT dan teknologi blockchain, karya budaya bisa didistribusikan secara global, dicatat secara permanen, dan memberikan insentif ekonomi kepada kreatornya. Dari sinilah muncul potensi baru: dokumentasi budaya berbasis blockchain, pelestarian cerita rakyat secara digital, atau pembiayaan seni berbasis komunitas.

Menuju Ekosistem yang Kolaboratif dan Berkelanjutan

Kini tantangannya bukan sekadar bagaimana terhubung ke Web3, tapi bagaimana memastikan komunitas ini tetap kolaboratif, rendah hati, dan terbuka. Jangan sampai NFT menjadi ekosistem elitis baru yang meniru Web2.

Sebaliknya, kita bisa membangun struktur yang lentur dan saling menguatkan. Menghubungkan seniman dengan developer, pemikir budaya dengan teknolog, dan komunitas dengan kolektor.

Masa Depan Dimulai Sekarang

Web3 bukan sekadar teknologi—ini adalah ruang baru yang membuka peluang bagi seniman, kreator, dan komunitas budaya. Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin transformasi ini dengan pendekatan yang kolaboratif dan terbuka.

Mari terus memperkuat jejaring, berbagi pengetahuan, dan memperluas kolaborasi lintas disiplin. Masa depan seni dan budaya Indonesia ada di tangan kita—dan masa depan itu dimulai sekarang.