Bridging Culture & Future

Mengapa Etika & Regulasi Dalam Pameran Penting Bagi Komunitas NFT Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, ekosistem seni digital dan NFT di Indonesia berkembang pesat. Banyak komunitas, kolektif, dan inisiatif baru bermunculan, menggelar pameran daring maupun luring, melibatkan seniman dari berbagai daerah dan latar belakang. Namun di tengah euforia ini, masih sedikit yang memperhatikan pentingnya menyusun kerangka kerja yang etis dan terstruktur untuk mendukung keberlanjutan, keadilan, dan transparansi dalam setiap penyelenggaraan proyek seni.

Baik penyelenggara maupun seniman memiliki tanggung jawab moral dalam memastikan bahwa proses seleksi, penggunaan karya, serta komunikasi antar pihak berlangsung secara adil dan profesional. Seringkali, karya yang tidak terpilih tidak dihapus atau dikembalikan sebagaimana mestinya, atau seniman tidak tahu bagaimana karya mereka akan digunakan setelah dikirim. Hal ini bukan sekadar soal administrasi—melainkan menyangkut penghargaan terhadap hak cipta, narasi, dan integritas artistik.

Untuk itulah pentingnya menyusun syarat dan ketentuan yang jelas dalam setiap pameran: siapa yang bisa berpartisipasi, bagaimana karya dikirim, bagaimana proses kurasi berlangsung, dan apa yang akan terjadi pada karya setelah program berakhir. Tidak kalah penting, adanya kode etik bersama—baik untuk seniman maupun penyelenggara—menjadi fondasi dari ruang kolaboratif yang sehat dan saling menghargai. Tanpa ini, risiko kesalahpahaman dan eksklusi akan selalu ada.

Bagi komunitas NFT Indonesia yang tengah tumbuh, membuat pameran tidak hanya soal memilih karya dan memajangnya. Ini juga tentang membangun kepercayaan. Saat proses kurasi dilakukan secara tertutup dan seniman tidak menerima informasi memadai, rasa ketidakadilan bisa muncul. Sebaliknya, saat proses bersifat transparan, terbuka, dan komunikatif, maka proyek akan membawa dampak yang lebih besar—bukan hanya bagi penonton, tapi juga bagi senimannya sendiri.

Dalam konteks Web3 yang menjunjung nilai desentralisasi dan kepemilikan kreatif, penyelenggara memiliki tanggung jawab lebih untuk menjunjung prinsip keterbukaan. Ini bisa dimulai dari hal sederhana: memberikan formulir yang jelas, menjelaskan bagaimana karya akan digunakan, serta menjaga komunikasi dua arah dengan para partisipan. Ini bukan hanya soal prosedur, tapi juga memperkuat ekosistem yang kolektif dan berkelanjutan.

Demikian juga bagi seniman, penting untuk memahami bahwa pengiriman karya ke suatu pameran berarti mempercayakan sebagian dari dirinya. Maka penting bagi seniman untuk membaca syarat dan ketentuan secara menyeluruh, memahami hak dan batasnya, serta memastikan bahwa pameran yang mereka ikuti selaras dengan nilai dan prinsip mereka sebagai kreator.

Dengan semakin banyaknya proyek NFT yang mengusung tema budaya, komunitas, atau sosial, kejelasan peran, batas, dan hak semua pihak akan menjadi kunci. Setiap proyek adalah bentuk kolaborasi antara ide, teknologi, dan manusia. Dan dalam kolaborasi, transparansi adalah dasar dari keberhasilan jangka panjang.

Jika komunitas NFT Indonesia ingin terus tumbuh tidak hanya sebagai ruang ekonomi digital, tapi juga sebagai ruang budaya yang hidup, maka penerapan etika dan regulasi yang kuat dalam setiap pameran adalah langkah yang tak bisa ditunda. Ini bukan soal memperumit, tapi justru menyederhanakan relasi—dengan saling menghormati sebagai titik berangkatnya.

Sebagai bagian dari ekosistem budaya berbasis Web3, Futuloka hadir sebagai sebuah open-innovation lab yang menjembatani kebutuhan seniman dan komunitas kreatif dengan teknologi baru. Salah satu bentuk kontribusi nyata Futuloka adalah dengan menyediakan dokumen referensi seperti Syarat & Ketentuan Dasar Partisipasi Pameran, yang bisa digunakan oleh komunitas NFT, kolektif seni, atau penyelenggara proyek untuk memastikan bahwa kegiatan mereka berjalan secara profesional, adil, dan etis. Dokumen ini dirancang untuk bisa digunakan ulang, dimodifikasi sesuai konteks, dan menjadi standar awal dalam membangun ekosistem yang transparan.

Futuloka percaya bahwa edukasi tidak hanya berhenti pada pemahaman teknis soal NFT atau blockchain, tetapi juga menyangkut cara kita berorganisasi, membuat acara, dan membangun hubungan antar pelaku. Dengan menyediakan kerangka dasar seperti ini, Futuloka berharap dapat membantu komunitas NFT Indonesia agar tidak perlu memulai dari nol setiap kali mengadakan proyek. Justru dengan memiliki landasan yang kuat, proyek seni dan budaya digital bisa tumbuh secara lebih sehat, saling mendukung, dan memiliki daya tahan jangka panjang.